Post saya kali ini ialah mengenai diri pribadi saya sendiri. Berkali-kali saya terus memperhatikan perkembangan pribadi saya hingga beranjak remaja dewasa. Saya membandingkan sikap dan tingkah laku dari sejak saya kanak-kanak hingga sekarang dan saya merasa mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Saya sempat membaca artikel mengenai manusia antisosial. Manusia antisosial yang diartikan sebagai psikopat yaitu sebuah gangguan kepribadian yang melibatkan prilaku dimana dia sama sekali tidak peduli pada orang lain, bahkan cenderung melanggar aturan. Gangguan ini mulai terlihat sejak seseorang tumbuh remaja antara 15-18 tahun. Well, semua pengalaman itu pernah saya alami. Sempat kaget dan tidak mengira setelah membaca gejala gangguan tersebut, ternyata saya masuk ke dalam beberapa kategori tersebut.
Dari beberapa kriteria psikis yang saya baca, ada beberapa diantaranya yang sama persis dengan kebiasaan saya ketika berumur lebih kurang 16 tahun, seperti :
1. Tidak takut pada hukuman
2. Emosi yang meledak-ledak
3. Tidak peduli dengan orang lain
4. Rasa sosialisasi yang sedikit
5. Senang menyendiri
Akibatnya mungkin berdampak pada nilai-nilai yang ada pada diri saya sendiri, walaupun tidak ekstrem tetapi prilaku tersebut sangat kental pada diri saya meskipun saya terus mencoba untuk keluar dan memaksa diri saya misalnya pergi keluar rumah untuk sekedar menyapa seseorang. Satu hal yang sangat saya tidak suka, "pergi ke rumah tetangga untuk sekedar mengembalikan barang." Saya sangat brutal, dan tidak jarang baku hantam dengan orang tua saya. Saya memandang semua orang sama rata, tidak ada sama sekali bentuk hormat sekalipun kepada orang tua. Dan semua ini mungkin penyebabnya ialah kasih sayang dari keluarga. Awalnya saya kurang mendapatkan kepercayaan dengan tekanan yang begitu besar ketika saya membuat suatu kesalahan, lalu saya tidak akan lagi dipercayai dan ketika saya ingin mencoba untuk jujur, hal itu hanya akan menjadi cibiran. Akibatnya saya kurang mendapatkan tempat di dalam rumah meskipun bentuk diskriminasi tidak saya dapatkan karena kuasa saya di rumah yang cukup dominan. Perkembangan emosional saya dalam keluarga sangat kurang, saya merasa kedua orang tua saya tidak mampu menghadapi emosi saya yang meledak-ledak, bahkan mereka malah makin membuat emosi saya meninggi. Tidak jarang kedua adik saya menjadi korban emosi saya, meskipun orang tua saya ada disana, namun mereka tidak mengerti emosi saya. Mereka hanya mendakwa bahwa saya telah salah dan saya tidak pantas mendapat perlakuan yang baik sebelum saya berbuat baik. Bentuk reward & punish membuat saya tidak memiliki bentuk kesadaran, semuanya dibawah aturan dan iming-iming akan reward.
Seiring saya beranjak dewasa, akhirnya saya mampu mencari nilai-nilai tersebut diluar lingkungan keluarga saya untuk menjadi selayaknya seseorang yang memiliki nilai-nilai dan tanggung jawab. Sedikit demi sedikit timbul rasa hormat kepada orang tua, dan untuk pertama kalinya saya berani mencium tangan kedua orang tua saya ketika saya naik ke kelas 3 SMA. Dan untuk pertama kalinya saya berani berkata, "terima kasih pa, ma." "maaf pa, ma." Kadang kata-kata itu begitu langka dan spesial untuk saya ucapkan kepada mereka.