Entah saya menulis ini ada benarnya atau tidak, yang jelas secara keseluruhan ini adalah pandangan saya dengan masalah yang timbul lewat berbagai selentingan yang saya dengar. Saya tidak ingin nasib saya berujung seperti bu Prita karena dianggap salah ngomong atau terlalu berlebihan mengungkapkan pendapat.
Mohon didengar dulu..
Bahwa apa yang orang-orang pandang sebagai sesuatu nilai etika kepada kami ini terkesan terlalu over-critical. Ya, mereka menganggap kami ini masih baru dan perlu pendampingan dan itu benar. Mereka menganggap mereka mungkin lebih kompeten untuk mengurusi masalah adaptasi seperti apa yang kami jalani seperti sekarang ini dan itupun tak salah.
Tetapi dalam hal apa?
Apakah setiap langkah kami harus selalu didampingi tanpa memberikan pilihan kepada kami, kesempatan kepada kami dan mengintervensi kaum kami dengan berbagai cara supaya kami dapat ikut ke dalam jalur yang kalian anggap benar itu? Apakah peran seorang pendamping seperti itu? Apakah peran seorang yang lebih kompeten itu artinya sebagai orang yang dapat memberikan kendali kepada kami? Lalu apa peran kami? Atau kami hanya harus mengikuti itu semua tanpa berusaha mencerna semua opini-opini dan mencari kebenaran atas apa yang kalian dan yang lain berikan?
Satu hal yang perlu diingat, bahwa kami pun belajar mandiri dan kami pun sekarang ini belajar bagaimana mengkondisikan diri kami bersama-sama untuk lebih solid atas kebersamaan yang akan kami lalui nanti dan kami sangat sadar akan hal itu. Itu semua yang kalian ingin kan?
Biarkan kami belajar tentang hidup sendiri, tolong jangan intervensi dan berikan kami kebebasan untuk memilih..maaf kalau kami kurang sopan dimata kalian, maaf kalau kata-kata kami kurang terpelajar di mata kalian. Karena disinilah kami dibimbing oleh kalian. Kami sangat menerima masukan, namun bukan sebuah intervensi ataupun dogma yang harus dilakukan dan diancam atas ketidakramahan kalian jika kami menolak dogma tersebut. Karena kami tahu, orang yang mampu membimbing itu tidak akan meninggalkan bagian lain yang ingin memberontak hanya karena orang itu tidak sepaham dengan kalian. Kami tidak ingin bernasib seperti orang-orang yang kalian anggap salah itu.
Terima kasih
Minggu, 24 Oktober 2010
Sabtu, 16 Oktober 2010
Review Story
Satu Jam Saja
Film ini jadi mengingatkan gue tentang sebuah kenangan masa lalu dan memunculkan hipotesis gue tentang sebuah hubungan, bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Perpisahan inilah yang nggak mungkin atau memang terasa berat untuk setiap pasangan yang baru saja memutuskan status hubungannya. Lewat lirik lagunya, "Jangan berakhir karena esok takkan lagi, satu jam saja, ku ingin diam berdua..mengenang yang pernah ada", membuat gue berpikir kalo sikap gue selama ini yang terlalu professional tentang setiap hubungan perpisahan terlalu jahat. Kadang cewek membawa pergi lebih dulu statusnya dari pada perasaannya, kadang cewek meludah lebih dulu dari pada menangis. Gue selalu menyesal setiap meninggalkan orang yang gue sayang dan orang yang sayang sm gue. Jadi mungkin yang lebih baik mengizinkan status ini pergi lebih dulu ketimbang perasaan, izinkan ia merasa bahagia mengakhiri segalanya. Izinkan kami berdua, mengenang yang pernah ada. Izinkan kami sebentar lagi, merasakan seperti rasa yang selalu ada dan pernah ada..
Film ini jadi mengingatkan gue tentang sebuah kenangan masa lalu dan memunculkan hipotesis gue tentang sebuah hubungan, bahwa setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Perpisahan inilah yang nggak mungkin atau memang terasa berat untuk setiap pasangan yang baru saja memutuskan status hubungannya. Lewat lirik lagunya, "Jangan berakhir karena esok takkan lagi, satu jam saja, ku ingin diam berdua..mengenang yang pernah ada", membuat gue berpikir kalo sikap gue selama ini yang terlalu professional tentang setiap hubungan perpisahan terlalu jahat. Kadang cewek membawa pergi lebih dulu statusnya dari pada perasaannya, kadang cewek meludah lebih dulu dari pada menangis. Gue selalu menyesal setiap meninggalkan orang yang gue sayang dan orang yang sayang sm gue. Jadi mungkin yang lebih baik mengizinkan status ini pergi lebih dulu ketimbang perasaan, izinkan ia merasa bahagia mengakhiri segalanya. Izinkan kami berdua, mengenang yang pernah ada. Izinkan kami sebentar lagi, merasakan seperti rasa yang selalu ada dan pernah ada..
Selasa, 12 Oktober 2010
Setitik Pertemuan untuk Sejuta Makna
Pertemuan kami begitu singkat. Berawal dari teman kursus, gue mulai belajar mengenali sikap dan sifat seorang wanita. Gue mulai membandingkan mana wanita yang pantas untuk gue.
Hubungan kami begitu cepat. Berawal dari hubungan yang tak sehat, gue coba mamatahkan paradigma orang-orang tentang karma. Walaupun akhirnya kami menjalani 1 tahun hubungan dengan baik, dan penuh dengan suka duka dimana gue disini menemukan hubungan yang benar-benar memacu segala pengorbanan.
Akhir dari semuanyapun bagaikan kilat. Berawal dari hubungan jarak jauh, memicu sebuah ketidakbebasan untuk bisa saling bertatap, dan kami sadar akan adanya sebuah perbedaan prinsip yang walaupun itu bisa ditutupi, namun jarak dan kebebasan itu yang tak bisa dibeli.
Gue bersyukur bisa milih wanita kaya dia. Wanita yang kuat, tegar dan tabah.
Gue beruntung bisa miliki wanita secantik dia. Wanita yang tau bagaimana memposisikan diri sebagai wanita didepan pasangannya.
Ya Tuhan,
Terimakasih untuk perkenalannya..
Terimakasih untuk kesempatan ini..
Terimakasih untuk cinta yang Kau beri pada kami..
Terimakasih telah menjaga hubungan kami selama ini..
Terimakasih telah memberiku wanita yang setia..
Terimakasih telah memberiku wanita yang tulus mencinta..
Terimakasih telah memberiku wanita yang jujur berucap..
Terimakasih telah membimbingku mengajarinya membangun sebuah komitmen..
Semoga semua hal itu ia tanamkan untuk pasangannya nanti..
Semoga semua hal itu ia berikan untuk pasangannya nanti..
Semoga ketulusan cintanya, ia berikan untuk kekasih sama seperti halnya ia berikan padaku..
Terimakasih untuk 17 bulan, hari bersamanya..
Hubungan kami begitu cepat. Berawal dari hubungan yang tak sehat, gue coba mamatahkan paradigma orang-orang tentang karma. Walaupun akhirnya kami menjalani 1 tahun hubungan dengan baik, dan penuh dengan suka duka dimana gue disini menemukan hubungan yang benar-benar memacu segala pengorbanan.
Akhir dari semuanyapun bagaikan kilat. Berawal dari hubungan jarak jauh, memicu sebuah ketidakbebasan untuk bisa saling bertatap, dan kami sadar akan adanya sebuah perbedaan prinsip yang walaupun itu bisa ditutupi, namun jarak dan kebebasan itu yang tak bisa dibeli.
Gue bersyukur bisa milih wanita kaya dia. Wanita yang kuat, tegar dan tabah.
Gue beruntung bisa miliki wanita secantik dia. Wanita yang tau bagaimana memposisikan diri sebagai wanita didepan pasangannya.
Ya Tuhan,
Terimakasih untuk perkenalannya..
Terimakasih untuk kesempatan ini..
Terimakasih untuk cinta yang Kau beri pada kami..
Terimakasih telah menjaga hubungan kami selama ini..
Terimakasih telah memberiku wanita yang setia..
Terimakasih telah memberiku wanita yang tulus mencinta..
Terimakasih telah memberiku wanita yang jujur berucap..
Terimakasih telah membimbingku mengajarinya membangun sebuah komitmen..
Semoga semua hal itu ia tanamkan untuk pasangannya nanti..
Semoga semua hal itu ia berikan untuk pasangannya nanti..
Semoga ketulusan cintanya, ia berikan untuk kekasih sama seperti halnya ia berikan padaku..
Terimakasih untuk 17 bulan, hari bersamanya..
Langganan:
Komentar (Atom)