"Love cures people, both the ones who give it and the ones who receive it."
Why Do We Help ?
To study helping acts, social psychologists identify circumstances in which people perform such deeds. Before looking at what the experiments reveal, let's consider what might motivate helping.
Kamis, 15 September 2011
Sabtu, 03 September 2011
sarcasm = the ability to insult idiots without them realizing it.
Don't call me crazy. I much prefer the term "mentally hilarious". I cheated on my fears, broke up with my doubts, got engaged to my faith and now I'm marrying my dreams. I let you down you said I'm fine, so what's the point of yelling all the time ? You act so damn mysterious. You got shades on your eyes.
I can say that more difficult to find people who're not wearing a hat among of people who use, than looking for people who wear hats, among which are not. I think maybe you do not start your story well. But it's not that change your life forever. Which determines the next life.
My cup of care for you. Oh look it's empty.
I can say that more difficult to find people who're not wearing a hat among of people who use, than looking for people who wear hats, among which are not. I think maybe you do not start your story well. But it's not that change your life forever. Which determines the next life.
My cup of care for you. Oh look it's empty.
Sabtu, 06 Agustus 2011
passion is a verb
Passion. One of the number one things that we look for in our partners. Its a universal desire for someone to be passionate about you. Its a plus when they are passionate about their own life, and about things that are important to them. It brings fervor and fire into any relationship and makes every day exciting. It’s odd that this is something we look for in people, as if there are people who aren’t passionate at all. Shouldn’t everyone have something that excites, defines, and drives them? Otherwise life would be boring and meaningless. Passion should not be optional.
How do you define passion? It can be a motion, a feeling, movement and life. Passion can be words – but most of the times words aren’t enough. They take the form of song, poem, story; the words have a rhythm and a personality. Passion is action. Showing someone your love, rather then saying it. Letting yourself run free in the direction of your wants.
Passion is the voice of your soul.
Find this in yourself. Not only will it make your life more fruitful and valuable, you will also be adding something priceless to the life of your partner. Don’t settle for less. Passion is not an option.
“Never underestimate the power of passion.” – Eve Sawyer
How do you define passion? It can be a motion, a feeling, movement and life. Passion can be words – but most of the times words aren’t enough. They take the form of song, poem, story; the words have a rhythm and a personality. Passion is action. Showing someone your love, rather then saying it. Letting yourself run free in the direction of your wants.
Passion is the voice of your soul.
Find this in yourself. Not only will it make your life more fruitful and valuable, you will also be adding something priceless to the life of your partner. Don’t settle for less. Passion is not an option.
“Never underestimate the power of passion.” – Eve Sawyer
Jumat, 05 Agustus 2011
Fiction
Menghancurkan apa yang kita miliki mampu menjadikan kita lebih kuat. Kekuatan itu negatif, berasal dari kedengkian. Ketidaktenangan bisa hadir, keputusasaan selalu mampir ketika mulai memiliki. Ketika kita mulai memiliki & mempunyai harapan, ketika itupun kekuatan negatif menghancurkannya. It's just like a cycle.
Jumat, 17 Juni 2011
...Waktu (yang selalu abadi)
ada waktu yang tidak pernah ditebak, kapan ia hidup dan kapan ia akan mati
ada waktu yang selalu (dianggap) menentukan
ada waktu yang selalu (dianggap) disalahkan
ada waktu yang selalu (dianggap) dapat memberikan sebuah jawaban...
aku, lah sang waktu.
yang selalu diminta untuk berlari dengan cepat.
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena lampu merah.
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena situasi yang tidak menyenangkan
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena sedang menghadapi ujian
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena sedang menghadapi kisah cinta
yang tidak tentu
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena sedang mengahdapi kemacetan
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena kisah masa lalu yang buruk
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama dengan kegiatan yang membosankan
oleh mereka yang tidak mau terjebak terlalu lama karena sedang menghadapi ceramah dosen
yang membosankan
oleh mereka yang tidak mau bersabar sejenak dengan apa yang sedang mereka hadapi saat
ini.
apapun itu.
aku, lah sang waktu.
yang selalu diminta untuk bergerak sangat lambat.
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama karena situasi yang menyenangkan
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama karena cintanya saat ini sedang bersemi
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama karena sedang memandangi seseorang
yang mereka puja
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama pada saat lampu hijau sedang menyala
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar mencintai seseorang
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama agar bisa menikmati liburan dengan lebih
santai
oleh mereka yang membutuhkan waktu lebih lama agar bisa mengerjakan sesuatu tanpa
tergesa-gesa
aku, lah sang waktu.
yang selalu diminta untuk memberikan jawaban
manusia sering berkata: "biarlah sang waktu yang memberikan jawaban"
manusia sering berkata: "hanya waktu yang dapat berikan jawaban"
manusia sering berkata: "liat aja nanti... waktu akan memperlihatkan semuanya"
aku, lah sang waktu.
yang selalu disalahkan
manusia sering berkata: "itu kan waktu dulu, beda dengan sekarang."
manusia sering berkata: "waktu itu mengubah keadaan. Keadaan yang terjadi sekarang pun
udah beda."
manusia sering berkata: "duh, kenapa siiih satu hari itu hanya 24 jam?! Tugas belom kelar,
neh!"
manusia sering berkata: "kenapa waktu kok, rasanya lambaaattt banget, siii??!! Pengen cepet
kelar ujian!!"
aku, lah sang waktu.
yang selalu abadi
aku menjadi saksi dari kesemua cerita manusia...
aku terus berlari, tanpa henti.
meski jam tanganmu rusak, aku masih berlari
meski jam weker pun terlambat 1 jam, aku masih berlari pada jalurku semula
meski kau membenci waktu, aku akan tetap ada
dan jika tidak ada aku...
takkan pernah ada masa lalu, sekarang, dan esok hari...
dikutip dari kumpulan cerpen Di Balik Celana Dalam Pria ~ Cecilia Gandes
...Berpikir dalam Hati Mengenai Kebaikan Orang
Nasihat Grandsyaikh 'Abdullah Fa’iz ad-Daghestani kepada kita, para pengikut thariqat, dan orang-orang yang mengaku religius, atau bagi orang-orang yang berkata,
"Aku adalah manusia, oleh sebab itu Aku harus menjaga salah satu perilaku baik yang terbaik, yaitu berpikir dalam hati mengenai kebaikan orang."
Sebaliknya, bila kita memikirkan perihal buruk tentang seseorang maka kita akan mendapat suatu akhir yang buruk. Allah senang bila kita mempunyai pikiran yang baik terhadap orang lain. Baik dan buruk dapat ditemukan dalam diri seseorang, keduanya siap untuk beraksi. Baik atau buruk reaksi yang ditimbulkan tergantung pada perlakuan kalian terhadapnya. Misalnya, jika Saya menghormati kalian, kalian akan merasa senang dan menunjukkannya kepada Saya. Kita perlu melihat orang dari sisi baiknya sehingga sisi itulah yang akan tampak.Bila kalian berpikir positif tentang seseorang berarti perlakuan dirimu terhadapnya akan menjadi baik. Perlakuan yang baik adalah dengan memberi hormat. Jika kalian melakukannya paling tidak kalian akan menghindari kejahatan dalam dirimu. Kejahatan bisa timbul dari siapa saja. Ini adalah suatu nasihat yang keras. Kita harus memberi hormat kepada semua orang, karena setiap orang mempunyai sisi baik. Allah menyukai bila hamba-Nya dihormati, walaupun mereka adalah para pendosa, karena Allah memberi anak-anak Adam kemuliaan yang tidak terhingga dalam Kehadirat Ilahi. Kalian tidak akan menemukan seorang ayah yang senang bila anaknya dihina, walaupun anak itu merupakan salah satu anak yang ternakal.
Jika seorang ayah berkata, "Anakku nakal." Saya harus mengatakan, "Akar yang baik, cabangnya juga baik, jangan khawatir, itu hanya soal kedewasaan." Dia akan merasa senang terhadap Saya. Semua ayah seperti ini.
...'Tokoh'
"Yang disebut tokoh bukanlah yang memimpin manusia dan berpidato di tengah majelis atau forum, sedangkan dirinya dibiarkan tenggelam dalam kubangan. Namun, yang disebut tokoh adalah yang memperbaiki diri dari kelalaian."
...Gila -- Bijak
"Bagi pikiranmu, aku gila. Bagi pikiranku, engkau semua bijak. Maka aku berdoa untuk meningkatkan kegilaanku, dan meningkatkan kebijakanmu."
...Huh?
Seorang laki-laki suatu kali bertemu dengan seorang perempuan cantik. Ia mengungkapkan cintanya kepadanya.
Perempuan tersebut berkata, "Di sampingku ada seorang yang lebih cantik dariku, dan lebih sempurna kecantikannya. Ia adalah saudara perempuanku."
Ia pun pergi untuk melihat perempuan ini. Kemudian perempuan yang pertama tersebut berkata, "Pembual! Ketika aku melihatmu dari kejauhan, kupikir engkau adalah orang bijak. Ketika engkau mendekat, aku pikir engkau adalah seorang pecinta. Sekarang aku tahu bahwa engkau bukan keduanya."
Perempuan tersebut berkata, "Di sampingku ada seorang yang lebih cantik dariku, dan lebih sempurna kecantikannya. Ia adalah saudara perempuanku."
Ia pun pergi untuk melihat perempuan ini. Kemudian perempuan yang pertama tersebut berkata, "Pembual! Ketika aku melihatmu dari kejauhan, kupikir engkau adalah orang bijak. Ketika engkau mendekat, aku pikir engkau adalah seorang pecinta. Sekarang aku tahu bahwa engkau bukan keduanya."
Kamis, 02 Juni 2011
Little Project 2010 ?
– “Airmata itu hangat dan asin biar kamu merasa bahwa sesakit apapun kamu, sebenarnya kamu masih hidup” – http://hurufkecil.wordpress.com
Siapa mereka ?
“Dari mana datangnya kalian ?”
“Hey, kita baru saja berkenalan ...”
(Ya kau harus tau itu ! Kita ! baru ! saja berkenalan !)
“Saya telah merasakan dan sudah menemukan ...”
Ketika...
Saya hampir jatuh, mereka menarikku sambil berkata “Kau tidak apa-apa?”
Ketika saya hampir terlelap di sebuah lorong yang gelap, mereka membangunkanku kembali sambil berkata, “Jangan tidur disini...”
Saya kadang tersesat, dan mereka menepuk pundakku sambil berkata, “Mari kita pulang...”
Saya kadang menolak untuk menerima semua ini... Saya menyalahkan keadaan...
Gila... Ini sungguh gila...
Walau tidak semuanya ...
Orang-orang yang baru ku kenal ini rela menjadi pagar kayu bagi rumahku ...
Orang-orang yang baru ku kenal ini mau membereskan halaman rumahku ...
Orang-orang yang beru ku kenal ini rela membersihkan sudut kamar ruang rumahku ...
Saya merasakan dan menemukannya disini ...
Some people live just to play the game...
Kami bersentuhan ... Kami pun bersinggungan ...
Dan sesekali kami saling hantam dan terjatuh ...
Namun setelah itu, kami tertawa dalam tubuh yang sedikit perih ...
Kami berkata, “Hey, hal yang itu tadi menyakitkan ... Kau curang, sekarang giliranku ...”
Namun setelah itu, kami tertawa kembali ... “Haha ... yang itu tadi menyenangkan”
Define what's within...
“Kini kita dan kami, dia dan dirinya sama saja, kami merasa satu”
Kami merasakan dan menemukannya ...
Ya, kami memang baru saja berkenalan ...
Saya tidak memberikannya panggung ...
Saya hanya memberikannya kepercayaan ...
Bagaimana dengan dirimu ?
#rumah #keluarga #momen #persahabatan #kebersamaan #keikhlasan #ketulusan
-Ini sebuah ketulusan, bukan pengabdian... Ini cinta-
Sabtu, 15 Januari 2011
Dulu Saya Manusia Antisosial
Post saya kali ini ialah mengenai diri pribadi saya sendiri. Berkali-kali saya terus memperhatikan perkembangan pribadi saya hingga beranjak remaja dewasa. Saya membandingkan sikap dan tingkah laku dari sejak saya kanak-kanak hingga sekarang dan saya merasa mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Saya sempat membaca artikel mengenai manusia antisosial. Manusia antisosial yang diartikan sebagai psikopat yaitu sebuah gangguan kepribadian yang melibatkan prilaku dimana dia sama sekali tidak peduli pada orang lain, bahkan cenderung melanggar aturan. Gangguan ini mulai terlihat sejak seseorang tumbuh remaja antara 15-18 tahun. Well, semua pengalaman itu pernah saya alami. Sempat kaget dan tidak mengira setelah membaca gejala gangguan tersebut, ternyata saya masuk ke dalam beberapa kategori tersebut.
Dari beberapa kriteria psikis yang saya baca, ada beberapa diantaranya yang sama persis dengan kebiasaan saya ketika berumur lebih kurang 16 tahun, seperti :
1. Tidak takut pada hukuman
2. Emosi yang meledak-ledak
3. Tidak peduli dengan orang lain
4. Rasa sosialisasi yang sedikit
5. Senang menyendiri
Akibatnya mungkin berdampak pada nilai-nilai yang ada pada diri saya sendiri, walaupun tidak ekstrem tetapi prilaku tersebut sangat kental pada diri saya meskipun saya terus mencoba untuk keluar dan memaksa diri saya misalnya pergi keluar rumah untuk sekedar menyapa seseorang. Satu hal yang sangat saya tidak suka, "pergi ke rumah tetangga untuk sekedar mengembalikan barang." Saya sangat brutal, dan tidak jarang baku hantam dengan orang tua saya. Saya memandang semua orang sama rata, tidak ada sama sekali bentuk hormat sekalipun kepada orang tua. Dan semua ini mungkin penyebabnya ialah kasih sayang dari keluarga. Awalnya saya kurang mendapatkan kepercayaan dengan tekanan yang begitu besar ketika saya membuat suatu kesalahan, lalu saya tidak akan lagi dipercayai dan ketika saya ingin mencoba untuk jujur, hal itu hanya akan menjadi cibiran. Akibatnya saya kurang mendapatkan tempat di dalam rumah meskipun bentuk diskriminasi tidak saya dapatkan karena kuasa saya di rumah yang cukup dominan. Perkembangan emosional saya dalam keluarga sangat kurang, saya merasa kedua orang tua saya tidak mampu menghadapi emosi saya yang meledak-ledak, bahkan mereka malah makin membuat emosi saya meninggi. Tidak jarang kedua adik saya menjadi korban emosi saya, meskipun orang tua saya ada disana, namun mereka tidak mengerti emosi saya. Mereka hanya mendakwa bahwa saya telah salah dan saya tidak pantas mendapat perlakuan yang baik sebelum saya berbuat baik. Bentuk reward & punish membuat saya tidak memiliki bentuk kesadaran, semuanya dibawah aturan dan iming-iming akan reward.
Seiring saya beranjak dewasa, akhirnya saya mampu mencari nilai-nilai tersebut diluar lingkungan keluarga saya untuk menjadi selayaknya seseorang yang memiliki nilai-nilai dan tanggung jawab. Sedikit demi sedikit timbul rasa hormat kepada orang tua, dan untuk pertama kalinya saya berani mencium tangan kedua orang tua saya ketika saya naik ke kelas 3 SMA. Dan untuk pertama kalinya saya berani berkata, "terima kasih pa, ma." "maaf pa, ma." Kadang kata-kata itu begitu langka dan spesial untuk saya ucapkan kepada mereka.
Saya sempat membaca artikel mengenai manusia antisosial. Manusia antisosial yang diartikan sebagai psikopat yaitu sebuah gangguan kepribadian yang melibatkan prilaku dimana dia sama sekali tidak peduli pada orang lain, bahkan cenderung melanggar aturan. Gangguan ini mulai terlihat sejak seseorang tumbuh remaja antara 15-18 tahun. Well, semua pengalaman itu pernah saya alami. Sempat kaget dan tidak mengira setelah membaca gejala gangguan tersebut, ternyata saya masuk ke dalam beberapa kategori tersebut.
Dari beberapa kriteria psikis yang saya baca, ada beberapa diantaranya yang sama persis dengan kebiasaan saya ketika berumur lebih kurang 16 tahun, seperti :
1. Tidak takut pada hukuman
2. Emosi yang meledak-ledak
3. Tidak peduli dengan orang lain
4. Rasa sosialisasi yang sedikit
5. Senang menyendiri
Akibatnya mungkin berdampak pada nilai-nilai yang ada pada diri saya sendiri, walaupun tidak ekstrem tetapi prilaku tersebut sangat kental pada diri saya meskipun saya terus mencoba untuk keluar dan memaksa diri saya misalnya pergi keluar rumah untuk sekedar menyapa seseorang. Satu hal yang sangat saya tidak suka, "pergi ke rumah tetangga untuk sekedar mengembalikan barang." Saya sangat brutal, dan tidak jarang baku hantam dengan orang tua saya. Saya memandang semua orang sama rata, tidak ada sama sekali bentuk hormat sekalipun kepada orang tua. Dan semua ini mungkin penyebabnya ialah kasih sayang dari keluarga. Awalnya saya kurang mendapatkan kepercayaan dengan tekanan yang begitu besar ketika saya membuat suatu kesalahan, lalu saya tidak akan lagi dipercayai dan ketika saya ingin mencoba untuk jujur, hal itu hanya akan menjadi cibiran. Akibatnya saya kurang mendapatkan tempat di dalam rumah meskipun bentuk diskriminasi tidak saya dapatkan karena kuasa saya di rumah yang cukup dominan. Perkembangan emosional saya dalam keluarga sangat kurang, saya merasa kedua orang tua saya tidak mampu menghadapi emosi saya yang meledak-ledak, bahkan mereka malah makin membuat emosi saya meninggi. Tidak jarang kedua adik saya menjadi korban emosi saya, meskipun orang tua saya ada disana, namun mereka tidak mengerti emosi saya. Mereka hanya mendakwa bahwa saya telah salah dan saya tidak pantas mendapat perlakuan yang baik sebelum saya berbuat baik. Bentuk reward & punish membuat saya tidak memiliki bentuk kesadaran, semuanya dibawah aturan dan iming-iming akan reward.
Seiring saya beranjak dewasa, akhirnya saya mampu mencari nilai-nilai tersebut diluar lingkungan keluarga saya untuk menjadi selayaknya seseorang yang memiliki nilai-nilai dan tanggung jawab. Sedikit demi sedikit timbul rasa hormat kepada orang tua, dan untuk pertama kalinya saya berani mencium tangan kedua orang tua saya ketika saya naik ke kelas 3 SMA. Dan untuk pertama kalinya saya berani berkata, "terima kasih pa, ma." "maaf pa, ma." Kadang kata-kata itu begitu langka dan spesial untuk saya ucapkan kepada mereka.
Langganan:
Komentar (Atom)


